Sabtu, 27 Agustus 2011

buka mata dan telinga

0 komentar

“Don’t judge book from the cover”
Pernyataan itu benar-benar mengingatkan saya tentang seseorang..
Seseorang yang gak pernah saya sangka sama sekali tentang kepribadian dan latar belakangnya..

Dulu saya cukup mengagumi sikapnya yang supel, rame dan banyak orang mau berteman dengannya.. meskipun dia bukan orang yg ahli dalam akademiknya
Setiap orang dan/atau sesuatu yang ia inginkan akan ia dapatkan hanya dengan “kedipan mata” saja..
Hingga kemudian kita dekat, dan saya mulai tahu semua tentangnya..
Bahwa.. hidupnya hanya dengan “lampu oblik” yang terangnya cukup redup dan hanya bertahan sementara saja..
Sayang sekali “matahari” tidak mau meneranginya bahkan menoleh pun “matahari” tak sudi..
Allah, ingatkan dia, setidaknya dia tahu bahwa jalan yg dia tempuh itu salah..

Ampas yang Berbekas

0 komentar

Kopi itu sudah kehilangan ampasnya,
Saya pikir karna sudah beberapa kali saya aduk saya teguk aduk dan teguk terus..
Memang pahit rasanya,
tapi kalau tidak saya habiskan ampasnya.. saya tidak bisa mendapatkan kopi yang lebih wangi..
saatnya tiba..
saat dimana ampas itu sudah menghilang,
dan kemudian seseorang menambahkan bubuk kopi yang lebih wangi ke dalam cangkir saya
saya tambahkan gula dan air..
memang lebih enak rasanya..
saya mulai lupa rasa dari kopi saya yang lebih dulu singgah di cangkir saya..

tapi apa saya yakin bahwa ketika kopi yg lebih wangi itu telah habis saya teguk akan meninggalkan bekas yg tidak akan hilang di cangkir saya?
Atau..
Malah ampas kopi saya yg lama masih ada yg tertinggal? Dan justru ampas ini yg berbekas jauh di bawah ampas yg baru?